Maraknya angka pengangguran terhadap pemuda berpendidikan merupakan
suatu hal yang tidak wajar. Pasalnya, setiap orang yang telah mengenyam
pendidikan pasti memperoleh pelatihan – pelatihan dari suatu bidang. Tetapi
pada kenyataannya, masih banyak orang yang menganggur dengan selembar kertas bertulis
“LULUS” yang menjadi kebanggaannya. Dilansir dari detik.com kita mengambil sampel dari Jawa Barat, terdapat 243 ribu lebih lulusan dari
perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan. Perguruan tinggi menjadi penyumbang
kedua dari banyaknya pengangguran setelah lulusan SMK (Sekolah Menengah
Kejurusan). Hal itu tentu menjadikan timbulnya pertanyaan, ada apa dengan
pendidikan di Indonesia?.
Sebuah perusahaan
bukan hanya menginginkan karyawan yang berwawasan luas. Melainkan juga
menginginkan kesesuaian action yang ditunjukkan oleh karyawan. Bagaimana
karyawan mampu membawa dirinya dalam berbaur dengan rekan kerja serta dalam
menaklukkan sasaran perusahaan. Calon pekerja masa depan harus mempunyai bakat
dalam memimpin, salah satunya adalah keterampilan berbicara.
Keterampilan
berbicara tidak diperoleh dari hasil yang instan. Melainkan, dengan proses yang
panjang. Seseorang yang mempunyai keterampilan berbicara baik adalah seseorang
yang rajin berlatih secara berkala mulai dari awal pembelajaran hingga tidak
terbatas kapan berakhirnya dan tidak lepas dengan yang namanya pendidikan. Seperti
yang tertulis dalam jurnal dengan judul “Pemaksimalan Peran Guru dalam
Pembelajaran keterampilan Berbicara di Sekolah”, dalam jurnal bervolume 12 itu
membahas tentang beragam strategi pembelajaran keterampilan berbicara yang
dapat diterapkan guru mulai dari jenjang yang paling dasar.
Cara yang paling
efektif dalam mengengembangkan keterampilan berbicara adalah dengan memberikan
kesempatan secara langsung bagi para pelakunya. Guru sebagai fasilitator
pendidikan dapat dengan mudah mengidentifikasi peserta didiknya terhadap
perilaku yang ditunjukkan siswanya. Dengan begitu, seorang guru dapat dengan
mudah dalam memecahkan masalah dan memilih strategi pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik siswanya.
Selain berdampak
positif bagi pengajar, pengembangan keterampilan berbicara sangat memberikan
efek baik bagi peserta didik. Di mana keterampilan berbicara akan mempengaruhi
adaptasinya di lingkungan kelak. Sebab, keterampilan berbicara merupakan sebuah
keterampilan yang memainkan ide, gagasan serta pengetahuan.
Keterampilan
berbicara merupakan salah satu dari sekian banyak sistem pembelajaran yang
diadopsi dari pembelajran yang diperoleh dari organisasi. Baik organisasi intra
maupun ekstra yang disediakan di akademik atau sekolah maupun
lingkungan masyarakat. Tujuan dari penulisan artikel ini salah satunya adalah
menekankan para pengajar untuk lebih menerapkan sistem pembelajaran organisasi
di dalam kelas.
Seperti yang diketahui sekarang ini, banyak pendidik yang hanya menekankan pengajaran kepada peserta didik untuk memperoleh pemahaman materi saja. Akhirnya, para peserta didik hanya sibuk dengan mengerjakan tugas yang numpuk. Dampaknya, mereka sekarang ini memiliki kekurangan dalam hal kepekaan terhadap lingkungan. Mereka cenderung memiliki sifat egois, pendiam dan kurang memiliki sikap toleransi.
.jpg)